BERLATIH UNTUK BERPIKIR POSITIF
Oleh: FITRI ENDANG*
Semua orang yang berusaha meningkatkan diri dan ilmu pengetahuannya pasti tahu bahwa hidup akan lebih mudah dijalani bila kita selalu berpikir positif. Tapi, bagaimana melatih diri supaya pikiran positiflah yang 'beredar' di kepala kita, tak banyak yang tahu. Oleh karena itu, sebaiknya kita kenali saja dulu ciri-ciri orang yang berpikir positif dan mulai mencoba meniru jalan pikirannya.
1. Melihat masalah sebagai tantangan
Bandingkan dengan orang yang melihat masalah sebagai cobaan hidup yang terlalu berat dan bikin hidupnya jadi paling sengsara sedunia.
2. Menikmati hidupnya
Pemikiran positif akan membuat seseorang menerima keadaannya dengan besar hati, meski tak berarti ia tak berusaha untuk mencapai hidup yang lebih baik.
3. Pikiran terbuka untuk menerima saran dan ide
Karena dengan begitu, boleh jadi ada hal-hal baru yang akan membuat segala sesuatu lebih baik.
4. Mengenyahkan pikiran negatif segera setelah pikiran itu terlintas di benak.
'Memelihara' pikiran negatif lama-lama bisa diibaratkan membangunkan singa tidur. Sebetulnya tidak apa-apa, ternyata malah bisa menimbulkan masalah.
5. Mensyukuri apa yang dimilikinya.
Dan bukannya berkeluh-kesah tentang apa-apa yang tidak dipunyainya.
6. Tidak mendengarkan gosip yang tak menentu.
Sudah pasti, gosip berkawan baik dengan pikiran negatif. Karena itu, mendengarkan omongan yang tak ada juntrungnya adalah perilaku yang dijauhi si pemikir positif.
7. Tidak bikin alasan, tapi langsung bikin tindakan.
Pernah dengar pelesetan NATO (No Action, Talk Only), kan? Nah, mereka ini jelas bukan penganutnya.
8. Menggunakan bahasa positif. maksudnya, kalimat-kalimat yang bernadakan optimisme, seperti "Masalah itu pasti akan terselesaikan", dan "Dia memang berbakat".
9. Menggunakan bahasa tubuh yang positif di antaranya adalah senyum, berjalan dengan langkah tegap, dan gerakan tangan yang ekspresif, atau anggukan. Mereka juga berbicara dengan intonasi yang bersahabat, antusias, dan 'hidup'.
10. Peduli pada citra diri.
Itu sebabnya, mereka berusaha tampil baik. Bukan hanya di luar, tapi juga di dalam.
*ANGGOTA BHC, FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNHAS
Diposting oleh
LAWALANGY
di
11.15
Masalah gizi buruk masih dialami oleh anak-anak di berbagai tempat di Indonesia dari tahun ke tahun. Ini menjadi potret buruk pemenuhan kebutuhan mendasar bagi masyarakat Indonesia.
Gizi buruk menjadi perhatian masyarakat ketika media mengangkat kasus-kasus meninggalnya anak-anak di banyak daerah karena malnutrisi. Bagaimana pendekatan penanganannya oleh Pemerintah dan masyarakat?
Pengurangan jumlah penderita malnutrisi menjadi salah satu target Tujuan Perkembangan Milenium (Millenium Development Goals atau MDGs). Indonesia berkomitmen untuk mengurangi hingga setidaknya tinggal 18% penduduk yang mengalami malnutrisi pada tahun 2015, di mana angka tahun ini masih 28%, sementara pelaksanaan MDGs tahun ini sudah memasuki periode sepertiga terakhir.
Program perbaikan gizi masyarakat dalam beberapa tahun ini sudah masuk dalam program tugas wajib Pemerintah Daerah. Namun bagaimana pelaksanaannya di lapangan?
Pada awal tahun 2008 ini, kasus gizi buruk kembali mengemuka. Dilaporkan antara lain di Trenggalek, Jawa Timur; Bekasi, Jawa Barat; Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur didapati adanya kasus malanutrisi hingga mencapai ratusan anak. Media massa merilis angka yang disebutkan sebagai jumlah temuan kasus gizi buruk pada anak dari tahun 2004 hingga 2007.
Pada tahun 2004 terdapat 5,1 juta anak mengalami gizi buruk, tahun 2005 terdapat 4,42 juta anak, tahun 2006 terdapat 4,2 juta anak, tahun 2007 sebanyak 4,1 juta anak.
Departemen Kesehatan (Depkes) kemudian meluruskan pemberitaan itu. Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari pada keterangan pers 9 Maret 2008, mengatakan bahwa angka-angka yang disebutkan di atas keliru dalam identifikasi kasus gizi buruk. Katanya, tidak semua jumlah temuan itu adalah kategori gizi buruk.
Oleh Depkes, kasus-kasus malnutrisi dibedakan dalam beberapa golongan yaitu gizi buruk, gizi kurang, dan risiko gizi buruk. Pengertian gizi buruk sendiri adalah keadaan gizi kurang hingga tingkat yang berat yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dari makanan sehari-hari dan terjadi dalam waktu yang cukup lama.
Perbedaan Cara Pandang
Depkes meluruskan data dengan mengidentifikasi bahwa angka 5,1 juta anak pada tahun 2004 itu adalah total kasus gizi kurang dan gizi buruk. Jadi tidak semuanya gizi buruk. Pada tahun itu, dari angka 4,2 juta anak balita dimaksud, 3,3 juta anak mengalami gizi kurang, dan 944.000 mengalami risiko gizi buruk.
Pada 2007, dari 4,1 juta balita yang mengalami malnutrisi, sebanyak 3,38 juta mengalami gizi kurang, dan 755.000 dengan risiko gizi buruk. Depkes juga menekankan bahwa telah terjadi penurunan jumlah kasus malnutrisi pada anak Indonesia, dari 2004 hingga 2007, seperti ditunjukkan pada data di atas.
Namun, mengapa di awal 2008 ini, media massa masih memberitakan masalah malanutrisi pada anak Indonesia sebagai lampu merah? Tampaknya ada perbedaan pendekatan dalam melihat besaran masalah, antara pendekatan statistik dan empirik. Cara pandang kita terhadap suatu hal, bagaimanapun, menentukan langkah yang kita ambil dan efisiensi penanggulangannya.
Pemerintah cenderung melihat dengan pendekatan statistik. Dalam hal ini Pemerintah melihat dari sisi besaran total per tahun dan konteks kategori Kejadian Luar Biasa (KLB). KLB dihitung dari jumlah kasus per lokasi pada kurun waktu tertentu, dengan catatan apakah lebih besar dari kasus di tempat yang sama pada periode sebelumnya.
Masyarakat cenderung melihat dengan pendekatan empirik. Masyarakat melihat dari kacamata peristiwa harian di realitas kasus per kasus. Adanya satu kasus pun, bagi masyarakat itu sudah menjadi kasus. Apalagi ini menyangkut nyawa manusia, yang sebagian besar adalah anak-anak balita.
Dengan pendekatan statistik, Pemerintah cenderung melihat besaran masalah dengan pendekatan penggolongan keparahan kasus yaitu gizi buruk, gizi kurang, dan risiko gizi buruk menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, pendekatan ini bisa efektif dalam menentukan penanganan yang tepat, kasus per kasus, per daerah. Dengan berbasis pada data, tentu dapat ditentukan pemetaan masalahnya, dan intensitas penanganan yang diperlukan.
Namun di sisi lain, pendekatan statistik dapat meredusir masalah. Data-data statistik kasus malnutrisi adalah data yang dilaporkan. Seperti diketahui, data ini bersifat fenomena gunung es. Apa yang dilaporkan, belum tentu menampakkan data sebenarnya.
Masih banyak kasus yang tidak diketahui, karena tidak dilaporkan. Apalagi mengingat era otonomi daerah, laporan adanya gizi buruk di daerah tentunya menjadi raport merah bagi daerah. Sementara di sisi lain, pendekatan empirik kelemahannya adalah akurasi datanya yang tidak menggambarkan pemetaan masalahnya.
Pendekatan empirik berbasis pada temuan-temuan sporadis. Namun pendekatan tersebut bersifat lebih fleksibel dan lebih memungkinkan penanganan secara tanggap darurat.
Penguatan Masyarakat
Sekali lagi, problematika penanganan gizi buruk dan malnutrisi anak secara umum, menghadapkan kita kembali pada pentingnya penguatan masyarakat. Untuk menjembatani kesenjangan antara pendekatan statistik dan empirik, di sini peran serta masyarakat menjadi penting.
Masyarakat sebagai ujung tombak keseharian idealnya lebih besar lagi peran sertanya dalam penemuan kasus-kasus dan penanganannya. Untuk itu, di tataran praktis, layanan Posyandu harus dihidupkan lagi hingga ke pelosok daerah. Posyandu di masa lampau telah menunjukkan kinerja yang efektif dalam penemuan dan penanganan masalah-masalah kesehatan anak dan ibu, hingga pelosok daerah.
Revitalisasi Posyandu, menjadi suatu langkah yang paling mungkin untuk dilakukan. Maka, kenyataan bahwa Posyandu selama ini dihidupkan oleh tenaga-tenaga sukarelawan, harus mendapat dukungan kelembagaan dari Pemerintah, untuk memotivasi tetap aktifnya layanan-layanan Posyandu di daerah-daerah.
Pemerintah Daerah apabila betul-betul berkomitmen dalam hal ini, dapat memberi penguatan pada sukarelawan, misalnya memperhatikan logistik, transportasi, dan kemudahan fasilitas infrastruktur, demi kelancaran tugas para sukarelawan Posyandu.
Yang penting untuk dikuatkan juga adalah peran serta filantrofi. Mobilisasi dukungan dana maupun sumber daya lainnya dari kegiatan filantrofi perlu dioptimalkan. Organisasi kemasyarakatan termasuk pula di lembaga-lembaga keagamaan merupakan sumber dukungan yang potensial.
Pemerintah Daerah dapat mengambil peran sebagai fasilitator dengan menyediakan pemetaan masalah dan infrastruktur. Dengan demikian, kendala kekakuan birokrasi dengan pendekatan statistiknya diharapkan dapat dicairkan oleh optimalisasi peran serta masyarakat, dengan pendekatan empiriknya.
Oleh
Antonius Wiwan Koban
(Peneliti Bidang Sosial The Indonesian Institute)
Diposting oleh
LAWALANGY
di
13.21
by: LAWALANGY
PANGGIL AKU SENJA
Panggil aku senja
Karena saat itulah kubaurkan engkau dengan fatamorgana
Kupersandingkan engkau pada lembutnya semburat lazurdi
Kubelai engkau dengan risik dedaun
Yang menjadikan dirimu
Tertidur oleh lagu angin gunung
Panggil aku senja
Bila pagi membuatmu menggigil
Dan siang yang panas
Menjadikan dirimu layu
Dan pada malam yang bakal tenggelamkaan dirimu
Pada kesepian dan kerinduan abadi
Panggil aku…
Panggil aku…
Tidakkan jua engkau menyadari
Betapa halusnya kepakan sayap burung merpati
Dan awan seputih kapas
Menyusup dirimu dan hatimu
Mengharubiru
Dan langkah-langkah kakimu
Menapaki setapak demi setapak
Kisah yang timbul tenggelam
Terbawa gelombang mimpi
Dan karam pada lubuk hati
Yang dingin dan gelap
Panggil aku…
Panggil aku…
Panggil aku senja
Yang mengangkatmu terbang
Menembus birunya langit
dan kita bercinta
bersama malaikat dan permata sorgawi
SURAT BUAT KAWANKU
Wahai anak muda bangunlah
Mentari telah meninggi
Subuh berlalu dengan dinginya
Dan jangan biarkan sujud pukul 12.30 berlalu
Bangunlah….
Walau hanya tuk menyaksikannya
Kita ditakdikan bersua disini
Mencoba mengayunkan pedang pucuk ilalang
Pada dunia yang ganas
Dan kita kan bersama
Menikamnya dalam-dalam pada kesombongan yang datang menari pada kita
Hari-hari
Sadari satu hal :
”Mahzab Green Ranch Palace mengajarkan kita ketegaran dengan dirinya yang ringih”
Menjadikan dirinya maskot jiwa, kita tak perlu malu
Karena Tuhan masih mengizinkannya berdiri
Meski dosa-dosa kita menambah beban pada usianya yang tak lagi muda
Makna kebersamaan bagi kita
Adalah kelaparan yang masih saja tak mampu menekan tawa dan canda kita hari-hari
Itulah kita
Yang tak pernah lepas senyum dan makna cinta
Wahai…
Bangunlah
Mentari telah meninggi
Subuh berlalu dengan dinginya
Dan jangan biarkan sujud pukul 12.30 berlalu
Bangunlah….
Walau hanya tuk menyaksikannya
BIARKAN AKU JUMPA HARI ESOK
Tuhanku….
Dalam takut dan terbenam dibayangan dosa
Dan panasnya mentari sore yang menerpaku
Serta kejamnya malam yang memelukku
Tipisnya selimut mengungkung tubuh telanjangku
Biarkan aku jumpa hari esok….
29122006 | Tamalanrea
*ANGGOTA BIASA BHC
Diposting oleh
LAWALANGY
di
17.18
Kesehatan Yang Terlupa
oleh: A s l a n S.Ked
Apa keunggulan kawasan Buton Raya? Sederet jawaban tertera, orang-orang menyebut aspal; bila dikelola kontinu akan sanggup beroperasi hingga 800 tahun ke depan (sepertiga pulau Buton mengandung aspal), hasil laut dengan segala keindahan bawah laut (Wakatobi), keanekaragaman hayati hutan Lambusango, Bau-bau dengan posisi strategis pelabuhan transit Indonesia Timur dan banyak potensi lain.
Tulisan ini mungkin hendak menawarkan satu perspektif, betapa selama ini kita (baca: pemerintah dan masyarakat) telah mengabaikan hal penting, yakni pembangunan bidang kesehatan. Sejak Indonesia merdeka, sungguh tidak banyak hal baru dibangun di kawasan ini, terkhusus jika mengambil daerah lain sebagai pembanding. Yang terdekat, saat Makassar telah memiliki berbagai sentra pelayanan kesehatan seperti Rumah Sakit yang maju (jumlah maupun kualitas), institusi pendidikan kesehatan lengkap dan bonafid, tenaga ahli, peralatan kesehatan modern dsb. Pada saat bersamaan, di bidang kesehatan, daerah kita belum berubah, kalaupun ada perbaikan, tidak signifikan dengan dinamika pertambahan penduduk dan kompleksitas wilayah, dari segi rasio jumlah tenaga kesehatan dan penduduk maupun pemutakhiran peralatan kedokteran misalnya. Di sisi lain, perkembangan pengetahun pengobatan dan penemuan alat-alat kesehatan berkembang demikian pesat.
Sementara sama dimaklumi, bahwa kesiapan daerah untuk menyediakan infra dan suprastruktur kesehatan telah menjadi satu kebutuhan penting, yang tak boleh ditunda. Dari aspek kuratif demikian, belum kita berbincang tinjauan promotif, preventif dan rehabilitatif.
Pertanyaan penting mengemuka, apa ada yang keliru dengan pengelolaan pembangunan kesehatan di sini? Yang jelas, ternyata kita tak kunjung sanggup merumuskan strategi jangka pendek dan jangka panjang dalam pengelolaan bidang kesehatan. Menyedihkan karena fakta berbicara, kesehatan tidak menempati porsi penting dalam praksis pemerintahan di kawasan. Memang, dari sekian kepala daerah beserta dinas terkait di kawasan Buton Raya, sangat sedikit yang terbukti punya keinginan politik kuat, membangun bidang ini. Bahkan ada kesan seperti gali lubang tutup lubang, sementara idealnya, sebuah strategi menjelma sebagai kerja-kerja real..
Pemerintah daerah yang konsisten pada kemaslahatan orang banyak, wajib hukumnya untuk merancang strategi berbasis data dan analisa kebutuhan, tidak boleh tidak.
Itu jika ingin berlaku adil dan serius, mengupayakan terpenuhinya kebutuhan dasar rakyat. Lalu, darimana kita mesti memulai? Sungguh banyak cara dan jalan, bisa dengan keberpihakan pada porsi anggaran, kebijakan, model pelayanan dan sebagainya, bergantung pada kondisi tiap-tiap daerah.
Bagaimana menumbuhkan kultur hidup sehat dan memperbaiki pelayanan kesehatan, dapat pula diawali dengan hal dasar yang langsung bersentuhan dengan kebutuhan orang banyak, seperti sesegera mungkin melengkapi tenaga kesehatan (dokter spesialis/ dokter umum yang terus terasah pengetahuan/ keterampilannya, perawat/ bidan terdidik, apoteker profesional, tenaga laboran terlatih, sarjana kesehatan masyarakat dsb) yang lengkap, minimal untuk 2 sampai 3 tahun, serta 10 atau 20 tahun dari sekarang. Tidak boleh ada kompromi, untuk hal yang berkaitan kebutuhan rakyat luas, kita pun memahami dalam pelayanan kesehatan, toleransi atas kesalahan adalah tidak diperbolehkan. Tidak boleh ada kekeliruan dalam pelayanan.
Terus apakah RS di kawasan ini telah memadai dengan peralatan kedokteran yang sesuai, seperti CT-Scan, alat cuci darah, dan sebagainya. Mengenaskan kalau yang kita miliki sekedar ranjang pasien dan beberapa peralatan berkarat yang ketinggalan zaman.
Atau lebih jauh lagi, seperti apakah dalam benak para pemimpin kita, bagaimana proyeksi ke depan, rencana pengembangan pelayanan kesehatan dengan melibatkan perguruan tinggi dan lembaga lain yang berkomitmen dalam peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
Lazim terdengar dan kita saksikan di depan mata, bahwa untuk penyakit-penyakit tertentu (yang sesungguhnya dapat ditangani sendiri), ketika penduduk di kawasan ini jatuh sakit terpaksa harus dirujuk ke Makassar, sebagian karena keterbatasan peralatan dan tenaga medis, sebagian yang lain karena alasan yang berbeda; mulai dari kekecewaan atas pelayanan di kampung sendiri hingga ketidakpercayaan atas kemampuan tenaga kesehatan daerah kita. Dari mereka yang dirujuk, ada yang sembuh namun karena beberapa sebab, tak sedikit yang meninggal dunia.
Coba dihitung berapa aliran dana yang mengalir ke Makassar, belum lagi kerugian yang diderita oleh pasien baik secara individual maupun kolektif, yang pada gilirannya nanti berdampak pada penurunan produktifitas masyarakat dan merugikan perekonomian daerah dalam jangka panjang.
Sungguh kesehatan adalah kebutuhan asasi manusia, sama seperti makan minum, pakaian dan tempat tinggal. Tanpa tubuh yang sehat, kenikmatan makanan akan berkurang, pakaian dan tempat tinggal yang mewah pun menjadi tak banyak membantu.
* Penulis adalah Anggota BHC
Diposting oleh
LAWALANGY
di
00.47